Metropolitan

Disangka Aku Bela Dia Anies Baswedan Kerap Dihina Sudjiwo Tedjo Ngaku Tak Percaya Ada Keadilan

Avatar
Written by Fatika Mutiara

Budayawan Sudjiwo Tedjo menganggap adanya ketidakadilan yang diterima Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Meskipun begitu, Sudjiwo Tedjo membantah membela Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Hal itu disampaikan Sudjiwo Tedjo melalui tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (11/2/2020).

Mulanya, Sudjiwo Tedjo memaparkan isi pancasila menurut logikanya. "Pancasila itu secara matematika ada ," kata Sudjiwo. "Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, (kedua) kemanusiaan yang adil dan beradab, (ketiga) persatuan Indonesia."

"Tujuannya adil makmur, caranya musyawarah mufakat," sambungnya. Menurut Sudjiwo, peraturan yang bertentangan dengan pancasila tak layak diberlakukan. "Kalau bertentangan dengan itu, peraturan enggak ada" tegasnya.

Lebih lanjut, Sudjiwo menyoroti banyaknya ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Meskipun optimis, Sudjiwo menyebut sejumlah hal yang menjadi pertimbangan. "Catatan saya yang lain adalah keadilan," tuturnya.

"Kita akan bisa bergerak ke depan, saya setuju optimistis tapi kita harus percaya pada pemimpin, dan kedua harus percaya pada keadilan." Lantas, ia pun menyinggung banyaknya hinaan yang diarahkan pada Anies Baswedan. Setelah banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Anies Baswedan terus dihujat karena proyek revitalisasi Monas.

Terkait hal itu, Sudjiwo mempertanyakan keadilan bagi sang gubernur. "Sekarang gimana saya percaya keadilan, orang yang menghina beliau enggak diapa apain," ujar Sudjiwo. "Yang menghina yang lain?"

Meskipun meminta penghina Anies Baswedan diadili, Sudjiwo enggan disebut membela Gubernur DKI Jakarta itu. Bahkan, ia mengaku tak memiliki urusan apapun dengan Anies Baswedan. "Ini pasti nanti aku diserang, disangka aku membela Anies," ungkap Sudjiwo.

"Aku enggak ada urusan sama Anies, aku punya nomor telponnya aja enggak," tukasnya. Pada kesempatan itu, sebelumnya Sudjiwo Tedjomenyoroti banyaknya kerabat para pemimpin di Indonesia yang kini turut mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di daerah masing masing. Menurut dia, di Indonesia posisi seseorang hanya ditentukan oleh harta yang dimiliki.

Sudjiwo Tedjo menilai, keadilan di masa lalu berbeda dengan kini. Menurutnya, di zaman dahulu ada persamaan nasib bagi seluruh warga negara. "Kalau meminjam (pernyataan) Soekarno, bangsa adalah suatu kaum yang mengalami penderitaan bersama," ucapnya.

"Dulu iya, itu ada disimpulkan di belakang." Terkait hal itu, ia pun memberikan contoh untuk memperjelas pernyataannya. Lantas, Sudjiwo menyinggung nama Presenter ILC, Karni Ilyas.

"Bapak saya dan bapaknya Pak Karni makannyauletkarung goni semua, ada persamaan nasib" kata dia. "Sekarang udah enggak ada persamaan nasib, arloji saya sama arlojinya Pak Thohir jauh banget. Gimana mau persamaan nasib?" Lebih lanjut, Sudjiwo menilai pemerintah tirani diperlukan di negara ini.

Hal itu berkaitan dengan persamaan nasib yang harusnya diperoleh oleh semua warga negara. "Makanya saya usul bangsa harus diikat di depan tujuan," ujarnya. "Nah tujuan itu memerlukan tirani kalau perlu."

Melanjutkan penjelasannya, Sudjiwo justru menyinggung para pemimpin yang kerabat terdekatnya turut mencalonkan diri di daerah masing masing. Hal itu menurutnya membuat kepercayaan publik pada pemimpin semakin berkurang. "Sekarang gimana aku mau percaya soal KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) misalnya, kalau pemimpin mantunya jadi calon ini," ujar Sudjiwo.

"Gimana mau percaya?" Terkait hal itu, Sudjiwo pun menganggap pentingnya harta untuk memperoleh posisi strategis. "Saya enggakngenyekpemimpin itu, kalau saya jadi pemimpin mungkin mantu saya juga," kata Sudjiwo.

"Karena di Indonesia enggak aman kalau enggak kaya." Mendengar pernyataan tersebut, GubernurDKI Jakarta Anies Baswedan yang turut hadir dalam acara itu pun langsung menganggukkan kepala. Tak hanya itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun tampak tersenyum mendengar ucapan Sudjiwo tersebut.

About the author

Avatar

Fatika Mutiara

Jika Anda melakukan sesuatu yang baik, setelah beberapa lama, tanpa anda pernah merasakannya, anda akan mulai untuk pamer. Setelah itu, anda tidak akan pernah dipandang baik lagi.

Leave a Comment