Nasional

Sebut Jokowi Baik Tapi Di Sekelilingnya Tidak, Komika Asal Papua : Biarkan Kami Bangun Papua

Avatar
Written by Fatika Mutiara

Komedian asal Fakfak, Papua, Mamat Alkatiri mengomentari sinis langkah yang akan dilakukan pemerintah guna mengatasi kisruh di Papua. Pemuda yang memiliki nama lengkap Mohammed Yusran Alkatiri itu rupanya gusar, sebab menurutnya, perdebatan soal Papua selalu terjadi tiap tahun. Wacana soal diskusi yang akan dilakukan pemerintah dengan rakyat Papua pun pada akhirnya tidak terlaksana.

Pun dengan Mamat Alkatiri yang mengaku sudah mengalami tindakan rasisme sejak tahun 2010. "Ini kan bukan kejadian pertama, kita tiap tahun akan membicarakan Papua seperti ini terus dari sudah lama, rasisme, dari 2010 saya sudah alami itu. Persekusi, saya sudah alami itu," imbuh Mamat Alkatiri. Mamat Alkatiri lantas mengungkapkan kegusarannya terkait dengan saran pemerintah untuk rakyat Papua pasca kerusuhan.

Yakni soal permintaah pemerintah agar rakyat Papua mau memberikan maaf. Menurut Mamat Alkatiri, rakyat Papua selama ini sudah sangat sabar dan berulang kali memaafkan kasus rasisme. "Kemudian pemerintah meminta kita untuk saling memaafkan. Ya oke, kita mau dibilang kita orang Papua harus memaafkan dengan yang lain, kita sudah memaafkan yang lain dari lama, kita sudah terlalu sabar untuk menghadapi kasus seperti ini," ungkap Mamat Alkatiri.

Karenanya, Mamat Alkatiri pun mengaku bingung harus menjelaskan hal apa lagi kepada pemerintah. Meski begitu, Mamat Alkatiri tidak ingin menghakimi sosok Jokowi. Sebab diakui Mamat Alkatiri, sosok Jokowi adalah sosok pemimpin yang punya niat baik.

Namun yang disayangkan Mamat Alkatiri adalah orang yang ada di sekeliling Jokowi. "Saya bingung mau bilang apa ke pemerintah. Bukan Pak Jokowi ya, kalau Pak Jokowi saya tahu punya niat baik, dan orang Papua membalas itu dengan memilih beliau, 90%. Tapi kan di sekelilingnya ini adalah orang lama yang menggunakan cara lama, pendekatan militer dengan kami orang Papua," ujar Mamat Alkatiri. Lebih lanjut, Mamat Alkatiri pun mengungkap soal perlakuan baik warga Papua kepada para pendatang.

Bahkan diakui Mamat Alkatiri, di kampung halamannya, Fakfak, bahasa Fakfak terancam punah. Sebab warga Fakfak banyak yang sudah menggunakan bahasa Indonesia demi menghargai para pendatang. "Kita menerima pendatang di Papua dengan baik. Saya berasal dari Fakfak. Itu bahasa daerah Fakfak hampir punah. Karena kita menghargai orang yang datang ke Fakfak makanya kita menggunakan bahasa Indonesia. Lalu kita dituduh tidak nasionalis," pungkas Mamat Alkatiri.

Mengacu pada hal tersebut, Mamat Alkatiri pun memberikan saran kepada Jokowi agar sang presiden tidak hanya berdiskusi dengan para elit Papua. Mamat Alkatiri meminta agar Jokowi juga ikut berdiskusi dengan para mahasiswa Papua. "Pak Jokowi saya sarankan jangan hanya berdialog dengan elit Papua. Ketemu lah dengan kami yang mahasiswa. Ketemu dengan paguyuban mahasiswa Wamena, Yapen Waropen, Fakfak. Biar tahu kita di lapisan bawah maunya apa,"

"Ajak kami berbicara, kami mau kok berbicara. Sementara ketika kami mau berbicara, mau berdiskusi kami dituduh separatis," ucap Mamat Alkatiri. Mamat Alkatiri pun mengaku heran dengan tudingan separatis yang sering dialamatkan pada warga Papua. Padahal menurut Mamat Alkatiri, lewat diskusi, rakyat Papuaberharap agarbisa lebih cerdas.

"Kalau selamanya tidak membiarkan mahasiswa Papua berdiskusi, terus kami dituntut untuk cerdas bagaimana ? Ya kami cerdas dengan cara berdiskusi," ujarnya. Karenanya, Mamat Alkatiri pun meminta satu hal kepada pemerintah. Bukan meminta uang atau pembangunan yang lain, Mamat Alkatiri meminta agar pemerintah memberikan pendidikan yang layak untuk warga Papua.

"Jangan berikan kami uang, jangan berikan kami apa apa, itu nanti nomor sekian. Berikan kami pendidikan yang layak, buat kami nyaman dapat pendidikan. Lalu biarkan kami pulang ke Papua sana, kami yang bangun daerah kami masing masing dengan bahagia," ungkap Mamat Alkatiri disambut tepuk tangan penonton. Tonton tayangan lengkapnya : Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkap adanya keterlibatan pihak asing dalamkerusuhanyang timbul di beberapa wilayah Papua, beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan informasi dariintelijen, Tito menyebut kelompok yang berupaya melakukankerusuhanmemiliki hubungan dengan pihak asing atau jaringan internasional. "Ada, ada (keterlibatan pihak asing). Kita tahulah kelompok kelompok ini ada hubungannya dengan network di internasional," ujar Tito, pasca HUT Polwan ke 71, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Minggu (1/9/2019). Meski demikian, mantan Kapolda Metro Jaya itu tidak menjelaskan secara detail siapa pihak asing yang dimaksud dan peran yang bersangkutan dalam kerusuhan tersebut.

Menurutnya, pihaknya akan menangani kasus keterlibatan pihak asing itu melalui cara bekerjasama dengan pihak Kementerian Luar Negeri dan Intelijen. "Jadi kami harus menanganinya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kerja sama kita dengan Ibu Menlu (Menteri Luar Negeri) dan jaringan intelijen," ungkapnya. Dalam kesempatan sama, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal menegaskan kasus ini harus ditangani secara komprehensif.

Iqbal mengatakan pihaknya bersama seluruh stakeholder terkait tengah memetakan sejauh mana keterlibatan pihak asing tersebut. Selain itu, ia juga menuturkan bahwa pihak pihak yang diduga menggerakkan massa untuk melakukankerusuhantengah didalami. Polri disebutnya tak segan menindak apabila menemukan bukti hukum. "Ini sedang kami petakan. Pihak kami, jaringanintelijendengan beberapa lembaga terkait, sudah bekerja. Intinya, kami tidak bisa juga menyampaikan seluruhnya di sini. Ini diplomasi antarnegara," ujar Iqbal.

"Pihak pihak yang diduga menggerakkan sudah dipetakan dan sedang didalami. Kalau misalnya terbukti secara hukum, tentunya akan ditindak," imbuhnya.

About the author

Avatar

Fatika Mutiara

Jika Anda melakukan sesuatu yang baik, setelah beberapa lama, tanpa anda pernah merasakannya, anda akan mulai untuk pamer. Setelah itu, anda tidak akan pernah dipandang baik lagi.

Leave a Comment