Rusia siap untuk bekerja dengan Pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang baru, tidak peduli siapa yang akan menjadi bagian dari itu, Presiden Vladimir Putin mengatakan pada Kamis (29/10/2020). "Kami akan menerima keputusan apa pun dari rakyat Amerika, dan kami akan bekerja dengan pemerintahan mana pun," kata Putin dalam VTB Capital Investment Forum "Russia Calling!" seperti dikutip TASS. Dia berharap, keputusan Washington akan terukur di masa depan. "Bagaimanapun, kami merasa tenang," ujarnya.

Menurut Putin, Pemerintahan AS saat ini telah memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia, pejabat, dan perusahaan sebanyak 46 kali. "Ini belum pernah terjadi sebelumnya, pada saat yang sama selama tahun sebelumnya volume perdagangan meningkat 30%, seaneh kelihatannya, meskipun ada pembatasan," ungkap Putin. Selain itu, Rusia dan AS bekerjasama secara efektif dalam stabilisasi pasar energi. Putin bilang, Presiden AS Donald Trump secara pribadi berpartisipasi dalam proses ini, "secara aktif dan cukup efektif".

"Kami berhasil melakukan ini bersama sama. Ini juga berarti, dalam situasi di mana kami dapat menggabungkan upaya, kami bertindak agak efisien dan ada bidang aktivitas, termasuk ekonomi, yang menjadi kepentingan bersama bagi semua negara kami," sebut Putin. Putin menggarisbawahi, politik AS sangat penting di dunia global. Dia menekankan, AS adalah negara adidaya dan raksasa ekonomi yang berdampak pada dunia secara keseluruhan. Hanya, "Mengingat AS sudah menikmati utang negara yang mencapai rekor tertinggi, kami tentu saja prihatin bagaimana hal ini dapat memengaruhi, dalam hal ini, ekonomi global?" imbuh dia.

Kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden mengatakan, Rusia merupakan ancaman terbesar bagi negeri uak Sam di arena internasional. Dalam wawancara dengan CBS, Minggu (25/10/2020), Biden mendapat pertanyaan: negara mana yang menurutnya paling berbahaya bagi AS. "Saya pikir, ancaman terbesar bagi Amerika Serikat saat ini dalam hal merusak keamanan dan aliansi kami adalah Rusia," katanya seperti dilansir kantor berita TASS, Senin (26/10/2020).

"Kedua, saya pikir pesaing terbesar adalah China. Dan, tergantung pada bagaimana kita menangani itu akan menentukan, apakah pesaing kami atau kami berakhir dalam persaingan yang lebih serius terkait dengan kekuatan," ujar dia. Biden juga menggarisbawahi, kebijakan Presiden Donald Trump juga menimbulkan bahaya signifikan bagi AS secara global. "Lihat apa yang dia (Trump) lakukan. Dia merangkul setiap diktator yang terlihat, dan dia menyentuh mata semua teman kita," kata mantan Wakil Presiden AS ini.

Menurutnya, pendekatan Trump tersebut menyebabkan peningkatan persenjataan rudal di Korea Utara. "Dan, Iran lebih dekat dengan, memiliki bahan fisil yang cukup untuk mendapatkan senjata nuklir dari sebelumnya," imbuhnya. "Anda memiliki sekutu NATO kami yang mundur dari kami karena mereka mengatakan, Kami tidak dapat mengandalkan AS," sebut Biden.

Terkait Pilpres AS, Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tanggapan. Tanggapan dari SBY terkait mana yang lebih baik bagi Indonesia, apakah Trump atau Biden? Pendapat SBY itu disampaikan melalui video di akun Youtube Susilo Bambang Yudhoyono yang diunggah pada Kamis (29/10/2020) kemarin.

Menurut SBY, situasi Pilpres AS saat ini bisa disebut sangat panas dan lebih dari sebelum sebelumnya. Hal itu terlihat dari perang kata antara Trump dan Biden dalam debat. Apa yang terjadi saat ini, ujar SBY, juga jarang terjadi dalam sejarah Pilpres AS.

"Saya kira sebagian rakyat Amerika malu melihatnya," kata SBY. SBY melanjutkan, ada pendapat yang menyebut bagi Indonesia, Trump adalah yang terbaik. Alasanya, Trump dari Partai Republik sehingga tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

Tidak akan ribut soal HAM, demokrasi dan juga perubahan iklim. "Pandangan ini relatif sama dengan kalangan lain di negeri kita. Artinya juga menjagokan Trump dan berharap dia menang lagi. Cuma alasannya sedikit berbeda. Kata mereka, kalau Trump yang menang, hubungan ekonomi dan bisnis akan lebih hidup. Lebih meningkat. Argumentasinya, Partai Republik di AS lebih pro bisnis. Termasuk punya keberpihakan kepada perusahaan multi nasional," beber SBY. SBY mendengar, sejumlah tokoh di Pemerintahan Presiden Jokowi juga punya pandangan dan harapan agar Trump menang.

Lebih lanjut, SBY mengungkapkan, dua bulan lalu ia diwawancarai oleh kalangan pers. Di tengah wawancara, wartawan menyinggung soal isu Pilpres AS. SBY mengatakan, kelompok ini justru mendukung Biden untuk menang dalam Pilpres.

"Alasannya, pertama mereka tidak suka dengan kepribadian dan gaya Trump. Yang kedua, apa yang diharap Indonesia dari Trump yang terkenal sangat egois dan ultra nasionalistik. Dia hanya mengutamakan Amerika dan tidak peduli dengan negara lain, bangsa lain," ujar SBY. Atas dua pendapat itu, SBY menyatakan ia menghormati semua pendapat tersebut. Hal ini karena antara dua pendapat itu, tidak ada yang sepenuhnya benar, tidak ada yang sepenuhnya salah.

SBY mengungkapkan, ketika menjadi Presiden, ia sempat bekerja sama dengan dua Presiden AS, yakni George Bush dan Barack Obama. Dua presiden itu dari partai yang berbeda. Bush dari Partai Republik, sedangkan Obama dari Partai Demokrat.

Berdasarkan pengalamannya bekerjasama dengan dua presiden dari partai yang berbeda itu, SBY mengatakan menyangkut hubungan internasional, tidak ada perbedaan mendasar antara partai pemerintah maupun oposisi. Jika ada perbedaan, hal itu tidak banyak dan tidak menyangkut hal yang prinsip. "Saya harus mengatakan bahwa siapapun presidennya, agenda kerja sama bilateral Indonesia AS Indonesia tetap luas. Dapat disimpulkan hubungan bilateral Indonesia tidak semata mata ditentukan darimana Presiden AS berasal," ungkapnya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.